Langsung ke konten utama

Ini kisah kami

Sejak kecil saya mempunyai banyak cita-cita. Namun cita-cita tersebut tidak banyak yang tersampaikan keluar, hanya dipendam sendiri. Ketika ditanya orang lain nanti kalau sudah besar mau jadi apa, tanpa pikir panjang jawabnya selalu "dokter". Hingga ketika menentukan jurusan yang akan diambil untuk kuliahpun, pilihan pertama ya fakultas kedokteran.
Namun semua yang dicita-citakan itu menjadi kenyataan.Aada skenario lain yang telah ditentukan oleh Allah SWT untuk saya yang saya yakini merupakan yang tebaik. Hasil ujian masuk universitas menunjukkan bahwa saya tidak bisa masuk ke fakultas kedokteran tetapi diterima di fakultas MIPA Universitas Andalas Jurusan Farmasi. Ditengah suasana penerimaan mahasiswa baru Fakultas MIPA UNAND, saya mendapat kabar bahwa saya juga diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta. Saya akhirnya memutuskan untuk masuk ke STIS setelah mempertimbangkan berbagai masukan dan saran dari orang tua dan orang-orang terdekat. Keputusan seperti ini ternyata juga dialami oleh  dua orang teman di Jurusan Farmasi UNAND dan beberapa teman lain di Fakultas Kedokteran yang saya ketahui ketika sudah berada di STIS.
Saya merupakan orang yang tipenya tertutup, pemalu. Bahkan selama 3 tahun di STIS, saya mendapat gelar yang Ter-Pemalu di kelas (Tahun ke-4 tidak sempat buat gelar Ter-ter lagi karena sudah sibuk dengan Tugas akhir disamping mata kuliah yang masih banyak harus dipelajari). Kagiatan (organisasi) saya dikampus tidak terlalu banyak. Pernah mencoba ikut beberapa kegiatan organisasi tetapi tidak berlangsung lama. Keinginan untuk aktif dikampus selalu ada, namun sifat pemalu saya lebih mendominasi saya.
Singkat cerita, saya lulus dari STIS dan mengabdi pada Badan Pusat Statistik (BPS) sejak 2008 hingg sekarang. Pada tahun 2011, alhamdulillah saya dipercaya Allah SWT untuk menjadi seorang istri dari teman seangkatan di STIS. Tahun berikutnya putri spesial pertama kami lahir, Raadhiyah Mardhiyyah namanya. Semoga Raadhiyah selalu menjadi orang yangselalu ridha dan diridhai oleh Allah SWT. Pada saat Raadhiyah sedang lengket-lengketnya menyusu, amanah beikutnya kami terima lagi. Karena selama awal kehamilan kondisi saya sangat lemah, dengan terpaksa Raadhiyah harus disapih saat usianya baru 16 bulan. Sebuah penyesalan bagi saya yang akhirnya membangun tekad saya untuk memenuhi hak calon anak kedua saya akan ASI sesuai dengan yang diperintahkan Allah dalam Alquran.
Bulan April 2014, sama dengan bulan kelahiran kakaknya, putri kedua kami lahir dengan sehat. Putri spesial kami yang kedua ini kami beri nama Dzaakirah Muthmainnah. Semoga menjadi orang yang senantiasa berdzikir dan mengingat Allah dan selalu menjadi orang yang selalu tenang. Berbeda dengan Kakanya Raadhiyah yang tipenya agak pemalu, Dzaakirah terlihat lebih aktif sejak bayinya. Banyak aktivitasnya yang tidak kami temukan ketika Kakak seumuran Dia. Ya, itulah anak-anak. Tidak ada yang sama antara satu anak dengan yang lain, Setiap anak itu Spesial.
Kehidupan kami berempat seperti halnya keluarga-keluarga dengan kedua orang tua bekerja lainnya. Pagi hari, kami sama-sama berangkat dari rumah. Saya dan Suami berangkat bekerja, sembari mengantar dua princess kami ke sekolah (daycare) nya. Sore hari kami juga sama-sama pulang ke rumah. Dari kantor anak-anak dijemput dan langsung ke rumah. Kadang sebelum kerumah, kami  jalan-jalan dulu disekitar rumah atau sekedar membeli makanan kesukaan mereka "bika".
Mulai sore hingga tidur, kami usahakan waktu kami hanya untuk duo princess kami. Weekend kami pulang kekampung yang hanya berjarak sekitar 40 Km atau kira-kira 45 menit dengan mobil.
Bekerja sebagai pegawai BPS, tidak cukup waktu 8 jam sehari, 5 hari seminggu. Banyaknya volume pekerjaan dan tuntutan yang harus diselesaikan, kadang memakan waktu-waktu kami bersama keluarga (Semoga kami selalu ikhlas menjalaninya sehingga dapat menjadi amal bagi kami dan bermanfaat bagi semua orang). Rutinitas yang sangat banyak, ditambah lagi dengan padatnya kegiatan pada tahun 2014 dan 2015 kemarin, membuat saya sedikit tertekan dan sangat butuh hal yang berbeda.
Pada tahun 2014, saya mulai mencoba berkarya dengan kain flanel, meskipun hanya untuk konsumsi sendiri. Ada rencana untuk mencoba memasarkannya, lagi-lagi karena padatnya tugas dan tanggung jawab di kantor, rencana itu menjadi sekedar rencana. Tapi sampai sekarang saya masih berharap itu bisa saya wujudkan. Alhamdulillah kegiatan itu bisa sedikit meredam kepenatan yang saya rasakan.
Tahun 2015, saya mencoba mendaftar untuk melanjutkan sekolah yang dibiayai oleh instansi karena memang sudah sejak lama saya dan suami sangat ingin melanjutkan sekolah. Alhamdulillah, skenario Allah lagi untuk saya, dengan persiapan yang seadanya dan perjuangan dengan tekad yang sangat kuat oleh suami (test Toefl, menyiapkan berkas, dll), saya dan suami diizinkan menimba ilmu lagi pada dua perguruan tinggi yang berbeda, tetapi masih berada dalam kota yang sama ( suami di ITB, saya di UNPAD). Hal ini merupakan anugerah yang tidak ternilai bagi kami karena dapat menimba ilmu tanpa harus terpisah jauh dengan keluarga karena kami semua (saya, suami, dan duo princess kami) pindah ke Kota Bandung. Di Paris Van Java ini kami mulai hidup dengan rutinitas yang baru, suasana yang baru, dan InsyaAllah dengan semangat yang baru. Semangat untuk menjadi lebih baik, semangat untuk menjadi lebih bermanfaat.



Bandung, 20 Januari 2016
ditengah hujan rintik yang terus mengguyur atap rumah sederhana kami...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Kabut di Mataku

Tinggal pada ketinggian melebihi 780 meter di atas permukaan laut, udara dingin sudah menjadi temanku setiap pagi. Apalagi rutinitas sehari-hari mengharuskanku beranjak dari rumah menaiki motor menuju tempat mengabdi. Setiap pagi dan sore ku pergi mengelilingi Gunung Marapi hampir separuhnya. Pagi ini, kabut pagi terasa begitu pekat. Udara dingin terasa begitu menusuk hingga tulang. Kesibukan di pagi hari membuatku baru bisa berangkat kerja ketika jarum panjang menunjukkan angka sembilan. Itu artinya ku harus berkendara dengan kecepatan penuh, agar tidak terlambat. Berharap tidak ada halangan yang akan memperpanjang waktuku di jalan. Baru beberapa meter dari rumah, ku merasakan ada yang berbeda dengan hari ini. Pandanganku tidak begitu jelas. Ku periksa helm, barangkali ada debu di sana. Tetapi hasilnya tetap sama. Kupastikan kacamataku tidak bermasalah. Ternyata memang tidak ada masalah dengannya. Semakin jauh dan memasuki wilayah persawahan, mulai kusadari ternyata kabut pag...

Nge-Craft lagi

Perasaan lelah melanda setelah dua pekan lebih mencoba untuk menjadi mahasiswa yang baik (nyari topik, aduh... topik, kamu ada dimana ????). Mudah-mudahan segera diketemukan dengan topik yang cocok, yang terbaik buat saya. Minggu depan masa kuliah akan segera dimulai lagi. Itu artinya akan semakin banyak tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan. Supaya tidak tambah stres dan mengatasi kejenuhan, saya mulai lagi membuat kerajinan dari kain flanel lagi nih... meskipun cuma sedikit, tapi cukup membantu membuat otak menjadi lebih fresh. Semoga setelah ini bisa kembali berjuang dengan semangat yang semakin membara, pemikiran yang lebih terbuka untuk mencari topik yang sesuai, hehehe... Ini yang saya buat beberapa hari ini. Membuatnya tidak setiap hari sih... kalau dikerjain serius seharian InsyaAllah selesai dalam satu hari. Tapi karena ngerjainnya juga sambil nyambi tugas-tugas penting yang lain, jadinya dalam beberapa hari. Ini adalah sampul buku laporannya putri-putri saya. ...